Wallahu A`alam

" Ilmu : Entah! Emboh! Ga Roh! "

Zikir

Peringkat Ahli Zikir

 

Menurut Imam Ghazali ada dua tingkatan zikrullah. Pertama adalah tingkatan para wali yang pikiran-pikiran seluruhnya terserap dalam perenungan akan keagungan Allah, dan sama sekali tidak menyisakan lagi di relung hati mereka untuk hal-hal lain. Terhadap zikir seperti inilah Rasulullah Saw. bersabda : “Orang yang bangun pagi hanya dengan Allah di dalam pikirannya, maka Allah akan menjaga di dunia ini maupun di akhirat.” Zikir pada peringkat ini adalah zikirnya orang-orang yang sudah mencapai tingkat istiqamah dan mulazamah dalam zikrullah, dan ini hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang menduduki derajat kematangan dan kesempurnaan iman, dimana hatinya senantiasa belum merasa tenang manakala ia tidak mengingat Allah. Sehingga dalam (keadaan apapun) dan semua garak-geriknya baik lahiriah maupun batiniah hati dan jiwa orang itu akan terus terkuasai sebaik-baiknya. Dimanapun dia berada, hal itu tidak menghalanginya untuk berzikir kepada Allah.

 

Adapun peringkat yang kedua yaitu zikir golongan kanan (Ashabul Yakin), yakni orang-orang yang saleh. Zikir mereka belum sampai membawa larut kedalam pikiran tentang keagungan-keagungan Allah, melainkan tetap sadar diri. Tentang peringkat dua zikir ini ada satu anekdot dari sufi klasik. Pernah seorang mutasawwif bertanya kepada mursyidnya, seorang guru sufi terkenal, Abu Uthman Al Hiri, “Aku berzikir dengan lidah, tetapi hatiku sulit bersatu dengan zikirku” ia menjawab, “Bersyukurlah, bahwa salah satu anggota badanmu menaati dan dibimbing kejalan yang benar. Barangkali hatimu kelak akan ikut juga, kelak akan mendaki ke tingkat yang lebih tinggi.”

 

Memang bisa dipahami bahwwa amaliah zikir bagi kelompok khawas, elit rohani yang terbatas jumlahnya, memungkinkan mereka itu hidup berkekalan dalam zikir yang sempurna. Berbeda dengan orang awam, agama tidak memberatinya mereka hanya diajak berzikir sebatas kesanggupannya. Zikir bagi orang awam dapat dilakukan dimana saja, pada saat apa saja, tanpa dibatasi pada waktu-waktu shalat atau pada tempat suci tertentu saja. Yang penting, zikir dapat diupayakan terus menerus, pagi, siang, sore, malam, duduk, berdiri. Namun perlu disadari oleh siapapun bahwa suatu zikir baru bisa efektif bia hati orang yang berzikir benar-benar menghayati kalimat-kalimat yang keluar dari lisannya. Sayangnya, yang banyak dijumpai adalah lisan berzikir tapi hatinya lalai, zikir cukup di lisan saja tanpa disertai oleh hatinya. Sehingga tidak sedikit orang mengamalkan zikir bertahun-tahun tapi tidak membekas didirinya. Meskipun itu jauh lebih baik dari pada orang yang tidak melakukan zikir. Sebab orang yang tidak melakukan zikir termasuk golongan ghafilun, orang-orang yang lalai.

 

Dalam Quran Al `Ankabut ayat 45 menerangkan :

 

” Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat.Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 

Rasulullah Saw. bersabda : ” Hendaknya lisanmu selalu basah karena berzikir kepada Allah Ta’ala.” Jadi, alangkah baiknya seorang mukmin mau melatih lisan dan hatinya untuk selalu mengingat Allah, meski di tengah kesibukan duniawi tetapi tetap perhatiannya selalu terpusat pada zikrullah.

 

Lambat laun, bila hati seorang hamba Allah sudah diliputi keinginan untuk mencapai kemuliaan yang hakiki, maka zikir kepada Allah akan senantiasa tumbuh dan lestari dalam hati itu. Amaliah zikirnya yang penuh konsentrasi dan kekhusyu’an sehingga benar-benar meresap ke dalam hati, akan senantiasa menuntun jiwa orang itu kepada rasa cinta yang tinggi kepada Allah Swt. Dan bila perasaan cinta (mahabbah) itu telah mengendap di dasar lubuk hati seorang abid, dan menghujan kuat dalam benaknya maka jiwa orang itu akan selalu berbunga-bunga karena kedekatannya dengan Allah yang telah menjadi kecintaannya. Dan siapa saja yang telah menemukan sinar mahabbah, tentu akan nampak tanda-tandanya, yaitu hati orang itu akan selalu rindu dan semakin senang berzikir kepada-Nya.

 

Allah telah menyuruh orang-orang yang beriman untuk selalu berzikir, mendekatkan diri kepada-Nya denga rasa cinta, kepasrahan dan penuh kedamaiaan, sebagaimana dalam firman-nya, ” Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang” (QS Al Ahzab: 41-42)

 

Dan juga disebutkan bahwa semua makhluk bertasbih kepada Allah, dan mereka melakukan zikir dengan cara tertentu.(QS. Al Ankabut:63) Kemudia ditegaskan pula bahwa apa pun yang dibisikan oleh hati seseorang Allah mengetahuinya, dan Dia selalu lebih dekat kepada manusia dari pada urat nadi sendiri.(QS. Qaaf:16) Tentu saja, kedekatan ini bukan berarti dekat jarak, karena sama sekali Allah tidak dibatasi oleh suatu jarak dan waktu.

 

Zikir meskipun bukan hukum fardhu, namun sangat dianjurkan dalam islam. Disebabkan keutamaan yang terkandung di dalam zikir sangatlah besar, terutama untuk menngkatkan kedekatan dan kecintaan kepada Allah Swt. Apalagi ketika dunia modern dewasa ini sudah menjadi terlalu rasional dan cenderung materialis, sehingga manusia merasakan penat dan ingin kembali ke hal-hal yang religius untuk mereguk rasa keagamaan yang hakiki. Dan itu bisa ditemukan oleh orang-orang yang hati mereka tenggelam dalam kekhusyu’an zikrullah. Sebagaimana yang telah dijanjikan Allah, ” Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”(QS. Ar Ra’ad:28)

 

Manusia akan menemuan tingkat kedekatan dengan Allah selagi ia terus menerus berada dalam zikir, dan terus-menerus menghindari dari segala sesuatu yang bisa melupakan Allah. Karena zikir dapat menjadi penghubung antara hamba dengan Tuhan, dan merupakan kunci pembuka tabir yang menutupi hubungan hamba dengan Tuhan. Tabir yang disebabkan kekotoran hati manusia dapat di sucikan dengan alat penyuci zikrullah, sehingga terbukalah tabir hijab, dan hati menjadi dekat dengan Tuhan .

 

Rasulullah Saw. bersabda : ” Bahwasannya bagi tiap-tiap sesuatu itu ada alat untuk menyucikan, dan alat untuk menyucikan itu ialah zikrullah.”

 

Dalam hadis lain disebutkan : ” Janganlah kamu memperbanyak pembicaraan tanpa ngat kepada Allah Swt. Sesungguhnya banyak pembicaraan tanpa mengingat Allah akan menimbulkan kesesatan hati, dan sesungguhnya sejauh-jauh manusia dari Allah adalah hati yang sesat.”

 

Zikir merupakan tiang yang kuat di jalan menuju Allah, juga sebagai langkah utama di jalan menuju cinta kepada-Nya. Sebab, orang tak dapat mencapai rasa cinta, tanpa mengingat-Nya terus menerus. Orang yang beriman dan cinta kepada Allah hatinya selalu dihiasi dengan zikrullah, karena zikir alah telah dijadikan santapan bagi jiwa mereka.

 

Wallahu A`alam

2 Komentar»

  ryan wrote @

zikir apakah yang paling utama….

  Wallahu A'alam wrote @

Sobat ryan,
Sidikit penulis sebutkan dalam topik tersebut, mungkin dari fersi penulis demikian: Zikir yang paling muantap menurut penulis adalah Zi`rullah yaitu zikir dalam hati yang terus menerus (tidak ada batasan waktu & tempat)menyebut nama-Nya dengan harapan kita akan selalu ingat akan larangan dan perintah-Nya, semoga kita diberi kekuatan tersebut dari-Nya, Amiin..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: