Wallahu A`alam

" Ilmu : Entah! Emboh! Ga Roh! "

Islamic Calendar

Rahasia Nama Allah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِِ

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

Kalimat di atas sering kita dengar dan paling sering berkumandang di telinga kita. Namun terkadang hal itu sangatlah kita sepelekan lantaran terlalu seringnya kita mengucapkan ataupun mendengarnya. Padahal di balik kalimat itu ada suatu hal yang sangat membuat hati kita bergetar. Salah satu hal yang membuat kita bergetar itu yaitu :

Hakikatnya Allah itu hanyalah sebuah Nama. ” Trus siapa yang kita sembah selama ini? Apakah Nama Allah itu?terkadang pertanyaan itu pernah terlampir dalam hati setiap insan. Adakah jawaban yang pantas untuk pertanyaan itu? Sedang Dia adalah Dzat yang tidak bisa di umpamakan oleh atau dengan apa pun! Walau sebuah Nama. Apa lagi dengan 99 Nama Allah. Konsep petanyaannya :Apakah 99 Nama Allah itu termasuk Tuhan? yang 1 atau pertama memang iya, tapi yang 98 nama lainnya,entah.

Lagi-lagi kita di faktakan dengan pertannyaan yang melilit, membuat hati kita terasa kembali mempertannyakan Siapa Tuhan Allah itu sebenarnya, kok mempunyai 98 Nama yang lainnya. ” Apakah Allah mempunyai alias-alias yang lain? Banyak yang mengartikan Nama Allah adalah untuk mempermudah manusia untuk mengenal siapa penciptanya. Dan Dia yang memiliki segala Nama yang serba Maha.

Istilah Allah sebenarnya bersumber dari kata Aliha yang artinya ” Sesuatu yang membingungkan, mengagumkan, memikat hati, dan mempesona. ” Ada satu pertanyaan lagi :Siapa yang mengenal dirinya, dia akan tahu siapa Tuhannya.” Lagi-lagi hal yang aneh, apakah mengenal berarti mengetahui siapa Tuhan itu? dan apakah Tuhan itu sama dengan diri manusia itu sendiri? sungguh penghinaan terhadap Kebesaran Dzat yang disamakan dengan derajat manusia. “Sedang Dia tidak bisa di ibaratkan atau di umpamakan apa pun. ” Manusia tidak lebih hanyalah materi yang berasal dari tanah serta setetes air yang hina, serta roh yang disusupkan oleh-Nya, kenapa kok dengan mengenal siapa dirinya dia akan mengenal siapa Tuhannya? Seolah-olah bila mengetahui siapa dan apa diri ini dia akan mengetahui siapa Tuhan Allah itu. Pada hal hakikatnya, sama sekali tidak akan pernah manusia bisa mencapai hal itu. Jika Tuhan bisa di ketahui dengan cara semudah itu, bukan Tuhan Yang Maha Gaib lagi namanya. Walau sebagian manusia bisa menembus batas itu, namun tidak lebih hanyalah tahu melalui sifat-sifat-Nya dan tajali di diri manusia saja. Namun, tidak lebih dari itu.

Tuhan itu me memang ada tapi tidak bisa di bayangkan seperti apa atau melalui nama apa atau melaliui sifat-sifat-Nya. Adanya Tuhan hanya bisa di ketahui dengan bukti-bukti ciptaan-Nya, yaitu alam semesta. Dan tidak lebih dari itu. Nama Tuhan tidak lah terlalu penting, baik itu Allah, Tuhan Yesus, Sang Yang Widhi, Gusti Pangeran dan sebagainya. Nama hanyalah sebutan manusia untuk Sang Misteri Sejati.

Dalam Al-Qur`an telah diterangkan nama Tuhan, yakni Allah. Bahkan itu jauh sebelum Al-Quran itu diturunkan. Orang-orang arab telah mengenal bahwa Allah merupakan sebutan buat Dzat yang di anggap sebagai Dzat Yang Paling Tinggi. Contoh ayat :

QS. Al Ankabut 61:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:  “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab:”Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)

QS. Al Ankabut 63:

 وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِن بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka:”Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab:”Allah”, Katakanlah:”Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya)

QS. Lukman 25:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi” Tentu mereka akan menjawab:”Allah.”

QS. Az Zumar 38:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ 

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:”Siapakah yang menciptakan langit dan bumi” Tentu mereka akan menjawab:”Allah.”

QS. Al Zukhruf 9:

وَ لَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيم

Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka:”Siapakah yang menciptakan langit dan bumi”, niscaya mereka akan menjawab:”Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”

QS. Al Zukhruf 87:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka:”Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab:”Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)

Sebagian ahli tafsir mengartikan, yang dimaksud dalam ayat tersebut Rasulullah Saw. jika bertanya kepada orang-orang arab tentang Tuhan, maka mereka menjawab Allah. ISrilah atau sebutan Allah, sudah ada dan dipakai sebelum Al Qur`an diturunkan.

Beberapa tahun setelah turun, maka Al Qur`an sering menyebutkan Dzat Yang Maha Tinggi itu dengan nama Ar Rahman. TEntu saja hal ini terdengar aneh di telinga orang-orang arab pada saat itu. Hingga mereka melakukan penolakan, karena tidak mau mengganti nama Tuhan ” Allah ” dengan sebutan baru. Karena adanya salah paham, maka orang-orang musyik menduga Nabi Muhammad tidak konsisten dalam mengajarkan faham ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam pemahaman mereka, jika Dzat Yang Berkuasa dan Maha Tinggi itu mempunnyai nama lain, berarti Dia tidak Maha Esa lagi, melainkan bilangan sebanyak nama yang digunakan atas-Nya.

Maka Allah memberi petunjuk kepada Rasulullah Saw. dalam firman-Nya :

 قُلِ ادْعُواْ اللّهَ أَوِ ادْعُواْ الرَّحْمَـنَ أَيّاً مَّا تَدْعُواْ فَلَهُ الأَسْمَاء الْحُسْنَى وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيل

Katakanlah:”Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.

Menurut Sayyid Qutb dalam tafsir fi Dzilal Al-Quran, firman ini mengandung makna bahwa manusia dibenarkan memanggil atau menamakan Tuhan merekan sekehendak mereka, sesuai dengan nama-nama yang paling baik. Firman ini juga merupakan sanggahan atas pandangan yang keliru pada mereka, yakni Allah dan Ar Rahman, sama saja. Jadi Tuhan Allah atau Ar Rahman atau apa saja sebutan-Nya sebenarnya hanyalah sebuah nama untuk Yang Maha Misteri Sejati Gaib-Nya. Lalu mengapa engkau memperdebatkan siapa nama Tuhanmu?

Tuhan Allah tidaklah bisa dibayangkan oleh akal atau pun oleh mata hati manusia, Dia Dzat yaYang Maha Gaib, mana mungkin manusia yang hanya berasal dari tanah hitam dan setetes air yang hina bisa membayangkan ke Gaiba-Nya? Dalam pandangan kaunm sufi, bahwa menyembah Tuhan berarti menyembah wujud yang tak terjangkau oleh apa pun.Antara nama ( al-ism ) dan yang dinamai ( al-musamma ) tentu tidaklah sama. Jadi, jika menyembah hanya atas nama Tuhan tidaklah benar jika dijadikan tujuan menyembah.

Wallahu A`alam

Cinta Bersemi

Cinta-Mu yang tak mengharap balas dari hamba-hamba-Mu, namun Engkau tetap menebar cinta kepada semua makhluk di jagad raya ini.
Sungguh keagungan yang tidak dimiliki oleh siapa pun, sedang aku terlena akan cinta manusia yang mengharap imbal balik dan syarat akan kepemilikan dan penuh dengan permintaan.
Cinta sesama makhluk hanyalah menambah beban di hatiku karena mereka selalu ada tuntutan akan itu. Sungguh perbedaan yang jauh antara kami dengan-Mu, Cinta-Mu tidak ada batas, tak perduli makhluk apa itu, namun Engkau tetap mencintainya dengan memberi kesempatan dia hidup. Engkau beri ia rasa, Engkau beri ia pancaindra, oh Tuhan…. Sungguh Mulia Nama-Mu. Walau hamba itu tak bersyukur sekalipun atas pemberian-Mu namun Engkau tetap Menggaungkan Kebesaran-Mu

Kucintai Engkau lamtaran aku cinta,
Dan lantaran patut untuk dicintai.
Cintakulah yang membuat aku rindu kepada-Mu,
Demi cinta suci ini, sibakkanlah
Tabir penutup tatapan sembahku.
Janganlah Kau puji aku lantaran itu.
Bagi-Mulah segala puja dan puji.

Ya Robbi, bila aku mencintaimu lantaran mengharapkan masuk surga-Mu, maka jauhkanlah surga itu dariku.
Dan bila aku mencintaimu lantaran takut akan neraka-Mu, maka bakarlah aku dalam neraka jahanam itu.
Namun jika aku mencintai-Mu lantaran hanya atas nama cinta, maka janganlah Engkau tutup tabir Keindahan Dzat Abadi-mu.

Wallahu A`alam

Wallahu A`alam

Secuil tentang asal-usulku.

Aku datang dari dunia lain, dan hendak pergi kedunia lain. Di dunia ini aku hanya unyuk memanfaatkan yakni dengan bekerja dan beramal demi hidup abadi di akhirat.
Dan aku tidak memiliki umur, suatu permulaan tidak di batasi oleh waktu. Dulu aku adalah Nur. Tidak ada kerajaan dan tiak ada falak, aku hidup di alam azali.
Aku merindukan alam rohani yang di selubungi oleh Nur kini, diriku telah menjadi jasad di alam dunia yang rendah ini. Bayangan eksistensiku telah menghalangi Rohku dan menghambatnya untuk menyaksikan rahasia-rahasia di sisi Allah.
Bagaimana mungkin aku bisa sabar dengan wujud duplikat ini! Engkau wahai jasad, alangkah jauhmu dari dekat kepada-Nya. Biarkan Rohku berlari menuju Allah, karena sesungguhnya aku sangat merindukan berhubungan dengan Yang Maha Esa
Aku merindukan kepulangan ke asalku dulu, ke arah kemutlakan dan rahasia global.

Wallahu A`alam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.